Mengenal Rochmat Setiawan, Performance Analyst Timnas U-19 Indonesia




Football5star.com, Indonesia - Di balik meroketnya popularitas Timnas U-19 Indonesia, perhatian tak hanya jadi milik para pemain. Kali ini, Football5star berkesempatan bertemu dengan performance analyst Timnas U-19 Indonesia, Rochmat Setiawan. Di sela-sela kesibukannya bersama Garuda Nusantara, kami bertemu di Hotel Sultan, Jakarta.

Di obrolan pada Sabtu sore (27/10) kemarin, Rochmat menjelaskan kepada kami banyak hal tentang dirinya dan Timnas U-19. Secara spesifik, pria asli Surabaya itu juga menjelaskan panjang-lebar tentang apa itu performance analyst, bagaimana dia bekerja, dan bagaimana pekerjaannya itu membantu meningkatkan performa Nurhidayat dan kolega di atas lapangan.

 

Tentang Performance Analyst


 

Jadi Mas Rochmat, sebenarnya apa itu performance analyst?

Secara spesifik, sesuai namanya, pekerjaan saya adalah menganalisis permainan. Permainan itu bisa dari calon lawan dan juga dari tim kami sendiri. Saya membuat laporan tentang analisis permainan tersebut dan mempresentasikannya kepada pemain serta tim pelatih, termasuk ke pelatih kepala.

Jadi bisa disebut juga termasuk sebagai asisten pelatih, ya?

Betul, karena secara struktural di manajemen kepelatihan, ya selain pelatih kepala, kami semua adalah asisten. Sebenarnya, analisis taktik, melatih fisik, melatih psikis pemain, itu adalah kemampuan yang harus dikuasai semua pelatih profesional. Itu salah satu syarat lulus lisensi kepelatihan. Jadi ya, pelatih kepala memang harus mampu menganalisis permainan, melatih fisik, memahami psikis pemain, bahkan melatih kiper. Tapi demi efisiensi dan efektivitas kerja pelatih kepala, direkrut kemudian para asisten yang jobdesk-nya beragam. Termasuk salah satunya saya, sebagai performance analyst.

Lalu, cara dan sistem kerja Mas Rochmat bagaimana?

Kalau di hari pertandingan, saya biasanya duduk di tribun dan memberi laporan pandangan mata kepada tim pelatih di bench. Karena, kan, view yang saya lihat dari tribun, berbeda dengan yang dilihat tim pelatih di bawah. Itu yang diharapkan membantu pelatih kepala membuat keputusan di pertengahan laga (bila diperlukan). Kalau setelah laga, saya mengumpulkan materi video permainan lawan dan menganalisisnya, untuk kemudian melakukan presentasi ke pelatih kepala dan pemain.

Materi video dari mana, mas?

Bisa dari mana saja. Tantangannya kalau timnas usia muda, memang kita minim sekali footage video. Tapi, bukan berarti tidak ada. Itu yang kemudian membuat saya perlu bekerja sama dengan beberapa pihak yang khusus saya rekrut untuk membantu soal ini.

 

Tentang Timnas U-19


 

Membahas skuat Timnas U-19, salah satu yang mengejutkan adalah Asnawi Mangkualam bermain sebagai bek kanan. Itu awal mulanya bagaimana, Mas Rochmat?

Sebenarnya itu karena kami krisis bek kanan. Rifad (Marasabessy) sempat cedera cukup lama dan kami harus siapkan gantinya. Lalu, coach Indra Sjafri berujar bahwa Asnawi patut dicoba sebagai bek kanan. Dan dari situ kemudian kami coba menyiapkan Asnawi di posisi itu. Dia pemain yang cerdas dan diberi briefing sedikit saja, dia paham dan sejauh ini bisa tampil baik sebagai bek kanan.

Lalu tentang hype di sekitaran timnas usia muda Indonesia, apa itu membebani para pemain?

Sejauh yang kami di tim kepelatihan lihat, anak-anak di Timnas U-19 jauh lebih santai ya tahun ini. Mungkin, ini karena mereka sudah berpengalaman dengan sorotan dan harapan ini sejak tahun lalu di Piala AFF 2017. Jadi, saya pribadi justru beranggapan beban bagi Timnas U-16 lebih berat karena ini sorotan besar pertama bagi mereka.

Bisa tolong sebutkan siapa misalnya pemain Timnas U-19 yang merespons sorotan publik dengan baik, mas?

Rian (Rachmat Irianto) dan Egy (Maulana Vikri) kalau menurut saya. Rian karena dia terbiasa bermain bagi Persebaya, tim dengan basis suporter besar. Basis suporter itu yang membuat tekanan bagi pemain juga biasanya besar. Jadi, ya, Rian sudah terbiasa dengan itu. Kalau Egy, ya, kita tahu dia sekarang sudah berkarier di Eropa. Secara rasionalitaspastinya dia jauh lebih matang.

Kalau Witan Sulaiman bagaimana, mas?

Witan ini, gimana ya, dia ini spesial. Dia tidak terlalu menghiraukan apa kata publik dan dia bermain dengan fantasinya sendiri.

Rochmat Timnas U-19Media menyoroti tumpulnya lini serang kita di uji coba sampai turnamen ini. Apa itu sebuah masalah, Mas Rochmat?

Saya rasa tidak. Di sepak bola modern, sebenarnya, tujuan bermain bola adalah untuk menang. Mau siapa pun yang mencetak gol, asal menang, tidak masalah. Itu yang tim pelatih coba terapkan di sistem main Timnas U-19. Kalau kami berfokus kepada kritik tentang "kenapa penyerang kami tidak cetak gol?", itu akan membebani tim. Justru, bisa menjadi bumerang karena pemain lain ikut terbebani. Pelatih sudah punya strategi tentang itu dan gelandang kami sekarang juga sudah banyak yang cetak gol, jadi ya, tidak masalah.

 

Tentang Liga 1 U-19 2017 dan Alumninya


 

Kenapa tidak banyak alumnus Liga 1 U-19 2017 yang kini masuk skuat Timnas U-19? Setahu saya, hanya Todd Rivaldo, Indra Mustafa, dan David Rumakiek, ya?

Ya ini murni kebutuhan taktik dan keputusan pelatih. Sebelum memilih skuat final untuk turnamen ini, kami sudah melakukan seleksi. Pelatih dan tim kepelatihan juga kemudian sudah menentukan beberapa kriteria. Di proses seleksi, wajar saya rasa kenapa ada beberapa pemain tidak terpanggil dan harus tersisih. Bukan berarti mereka yang tidak dipanggil tidak bagus. Tapi ya murni karena kebutuhan tim saja. Beberapa dari mereka juga dicoret bukan karena tidak bagus, tapi karena terkena cedera.

 

Tentang Jepang U-19


 

Bagaimana potensi lawan Jepang U-19?

Jepang ya Jepang, tapi status mereka sebagai juara bertahan Piala AFC U-19 2016 juga tidak bisa jadi patokan. Lagipula, dua tahun lalu, para pemain mereka mungkin sudah naik ke kelompok umur U-23. Jadi ya, tim Jepang yang ini sebenarnya bukan tim juara karena ini generasi baru mereka ya. Jepang memang masih raja Asia, tapi Indonesia sudah masuk 8 tim terbaik Asia di turnamen ini. Jadi asal kami bermain lebih baik dari mereka, saya tidak merasa kami inferior melawan mereka.

 

Tentang Bima Sakti sebagai Pelatih Tim Senior


 

Opini profesional menanggapi penunjukkan Bima Sakti di timnas senior?

Terkait penunjukkan Bima Sakti, sejujurnya, saya tidak paham situasi di federasi. Tapi kalau melihat sisa waktu persiapan tim jelang Piala AFF 2018, saya rasa Bima Sakti adalah pilihan ideal. Waktunya mepet dan kita riskan kalau memakai pelatih baru lagi. Jadi, coach Bima bisa memakai fondasi Timnas U-23 dan gabungan pemain senior seperti yang pernah beliau latih bersama Luis Milla sebelumnya. Dengan pertimbangan seperti itu, ya menurut saya coach Bima adalah opsi terbaik.
Mengenal Rochmat Setiawan, Performance Analyst Timnas U-19 Indonesia

#TimnasIndonesia #TimnasU19 #TimnasU19Indonesia

Komentar