KOLOM: Kita Rival, Bukan Musuh yang Boleh Membunuh


Banner Footbal Live Star-Football5starFootball5star.com, Indonesia - Sepak bola Indonesia kembali dihampiri cerita duka dari kalangan suporter. Kematian Haringga Sirila salah satu anggota The Jakmania yang dikeroyok suporter Persib di Bandung menambah panjang daftar korban nyawa akibat rivalitas buta. Bisakah rivalitas tidak dimaknai sebagai permusuhan atau penghalalan untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan?

Bereaksi terhadap musibah yang menimpa Haringga, PSSI selaku induk sepak bola di tanah air langsung mengambil sikap dengan menghentikan sementara kompetisi Liga 1 hingga waktu yang tak ditentukan. Sedangkan Menpora Imam Nahrawi mempunyai inisiatif mengumpulkan seluruh suporter di seluruh Indonesia untuk menandatangani nota kesepakatan damai.

[caption id="attachment_155953" align="aligncenter" width="741"]menpora-imam-nahrawi-kemenpora-football5star kemenpora.go.id[/caption]

Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra mengingat tak sedikit yang beranggapan bahwa perdamaian suporter tak bisa dilakukan oleh pihak elite. Baik itu pemerintah, PSSI, hingga klub, pun dinilai belum maksimal dalam memberi wadah untuk suporter.
Wacana Perdamaian, Bisakah Teralisasi?

Akan tetapi, langkah maju sejatinya sudah coba dilakukan beberapa klub dengan basis suporternya. Sebut saja sinergi yang sudah diterapkan oleh Persebaya Surabaya. "Kami membentuk divisi fans sejak Liga 2 musim lalu demi menjembatani keinginan Bonek," kata Chandra Wahyudi selaku Manajer klub berjuluk Bajul Ijo tersebut.

Viking Frontline yang merupakan salah satu barisan pendukung Persib menyatakan, kebijakan mensinergikan klub dengan suporter adalah hal yang utopis. Kendati demikian kampanye antikekerasan dinilai mereka jadi salah satu tindakan yang konkret.

“Hal menasar seperti "jangan membunuh", "jangan melakukan kekerasan", "jangan merugikan orang lain". Ini sederhana sekali, tapi kalau untuk mengedukasi suporter, bahasanya utopis betul,” kata Anky Rakhmansyah selaku pendiri Viking Frontline kepada Football5star.

Kendati demikian wacana untuk mensinergikan semua pihak demi terjadinya perdamaian antara suporter juga digaungkan oleh beberapa kelompok suporter. LA Mania misalnya yang merekomendasikan adanya pertemuan yang diinisiasi oleh pihak keamanan sebelum berjalannya pertandingan.

“Kita pas lawan Persebaya kita kesana dan aman. Dulu kita Rival,  sekarang gapapa sekarang ga ada kekerasan, kan buat contoh juga. Sebelum pertandingan adara rapat kordinasi yang menjembatani Kapolres dari instruksi Kapolda,” ucap Renggo, Sekretaris LA Mania.
Satu Muara Beda Suara

Wacana lebih ekstrem dilayangkan oleh Akmar Marhali dari Save Our Soccer. Ia berpendapat bahwa empat kelompok suporter di Indonesia seperti Bonek, The Jakmania, Viking, dan Aremania dikumpulkan satu stadion dalam sebuah laga amal.

“Ya nantinya mereka sekalian mengangkat foto semua korban rivalitas di Indonesia,” katanya di acara Mata Najwa di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, beberapa hari lalu.

Wacana untuk menghadirkan kedua kubu suporter dalam satu pertandingan juga mengemuka. Helmi Rembol dari Forum Diskusi Suporter Indonesia meminta federasi dan keamanan berkaca dari luar negeri.

Ia menyarankan agar federasi dan pihak keamanan menggunakan sistem Bubble Match di pertandingan yang memiliki tingkat risiko tinggi terkait potensi gesekan antarsuporter. “Pihak tuan rumah menyediakan jatah kuota tiket untuk pendukung tim lawan dan memastikan keamanan dari keberangkatan hingga pulang,” usulnya.

Cara tersebut dinilainya cukup efektif dalam menekan korban jiwa dari suporter yang sejak 1994 lalu hingga kini mencapai 76 jiwa menurut data dari Save Our Soccer. Di sisi lain angka tersebut cukup tinggi mengingat suporter di Indonesia memiliki angka yang besar dan fanatisme luar biasa.

Richard Achmad Suprianto selaku mantan Ketua Umum The Jakmania meminta kepada PSSI dan seluruh klub untuk memikirkan nasib para suporter. Ia beranggapan bahwa angka jumlah pendukung yang besar tidak hanya dibuat sebagai pengeruk keuntungan semata.

Sampai saat ini, wacana dan usulan konkret perdamaian antar suporter terus mengapung serta menjadi pembahasan "seksi" di kalangan pencinta sepak bola Indonesia. Berbagai pihak melotarkan suara berbeda meski dengan muara yang sama.

Pertanyaannya: Apakah akan ada wujud nyata dari wacana tersebut dalam waktu dekat?. Bisakah rivalitas tidak dimaknai sebagai permusuhan atau penghalalan untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan?

Rivalitas tentu tak akan pernah berakhir. Karena tanpa adanya rivalitas, sepak bola akan hampa dan membosankan. Namun, bukan berarti menghalalkan aksi vandalisme atau permusuhan yang berujung nyawa melayang. Toh, "we are rival, but not enemy".

[better-ads type="banner" banner="156417" ]
KOLOM: Kita Rival, Bukan Musuh yang Boleh Membunuh

#HaringgaSirila #Liga1 #Menpora #PSSI

Komentar