
Football5star.com, Indonesia - Hasil undian Liga Europa 2018-19 mempertemukan dua tim bersaudara, RB Salzburg dan RB Leipzig, di fase grup. Keberadaan dua tim sempat memicu polemik. Pasalnya regulasi UEFA menyebutkan, dua klub atau lebih dengan pengaruh kepemilikan sama, tak bisa bersaing dalam satu kompetisi. Sementara, Salzburg dan Leipzig disokong perusahan yang sama, Red Bull.
Red Bull merupakan produsen minuman energi asal Austria yang berdiri sejak 1987. Sebagai salah satu perusahaan besar dunia, Red Bull pun cukup aktif terlibat dalam dunia olahraga, termasuk sepak bola. Di pentas sepak bola Eropa, dua klub kasta atas yang disokong Red Bull adalah Salzburg (Austria) dan Leipzig (Jerman). Menariknya, kedua tim untuk pertama kali akan terlibat duel langsung di pentas Liga Europa 2018-19.
Hasil drawing di Monaco mengantarkan kedua tim berada di Grup B bersama Celtic (Skotlandia) dan Rossenborg (Norwegia). Fakta itu sempat membangkitkan memori tentang polemik kepemilikan yang nyaris mengganjal partisipasi keduanya di Liga Europa musim lalu. Namun, tranformasi yang dilakukan Salzburg dan Leipzig membuat UEFA akhirnya memberi lampu hijau.
Salzburg dan Leipzig bekerja untuk memisahkan urusan di semua tingkatan sehingga Adjudicatory Chamber dari UEFA Club Financial Control Body (CFCB) bisa memastikan bahwa Pasal 5 (Integrity of the competition) dari regulasi kompetisi, tidak dilanggar.
"Setelah penyelidikan menyeluruh dan lebih lanjut, untuk beberapa perubahan struktural yang dibuat oleh klub (mengenai detail coorporate, finansial, personel, sponsorship, dll), CFCB menganggap bahwa tidak ada lagi pengaruh individu atau badan hukum terhadap lebih dari satu klub yang berpartisipasi dalam kompetisi klub UEFA," bunyi pernyataan Adjudicatory Chamber dari CFCB.
1. STRUKTUR KEPEMILIKAN
[caption id="" align="aligncenter" width="727"]
Footyheadlines[/caption]Keberadaan kedua tim dalam satu grup di Liga Europa menjadi buah dari putusan yang dibuat UEFA pada tahun lalu. UEFA menjawab perdebatan dengan merestui Salzburg dan Leipzig untuk bersaing bersama di kompetisi elite Eropa.
Sikap lunak Salzburg dan Leipzig yang mau mengubah struktur perusahaan di tubuh klub dalam berbagai aspek, menjadi dasar sikap UEFA. Semula, kedua tim memang sama-sama dimiliki oleh Red Bull secara mayoritas. Namun, sejak musim lalu, Red Bull hanya berperan sebagai sponsor untuk Salzburg.
Sementara di tubuh Leipzig, Red Bull masih memegang 99 persen kepemilikan saham, sedangkan sisanya dipegang oleh member klub. Namun, demi mengikuti regulasi 50+1 yang diterapkan DFL (Deutsche Fußball-Liga), secara de jure member klub memiliki 51% hak suara.
2. NAMA KLUB
[caption id="" align="aligncenter" width="1080"]
Footyheadlines[/caption]Situasi terkait nama klub pun cukup rumit. Demi mengikuti aturan UEFA, Red Bull Salzburg harus berkompetisi di pentas internasional dengan nama FC Salzburg. Sementara di Austria, Salzburg bertahan dengan nama asli karena tak ada regulasi yang mengadang.
Beda hal dengan Leipzig, yang di kompetisi domestik pun sudah tak menggunakan embel-embel nama Red Bull karena adanya aturan ketat dari DFL. Alhasil, mereka pun menggunakan nama RasenBallsport Leipzig. Jika diartikan, RasenBallsport memiliki makna lapangan sepak bola.
3. STADION
[caption id="" align="aligncenter" width="600"]
WikiCommons[/caption]Markas Salzburg dikenal dengan nama asli Red Bull Arena (Salzburg). Namun, dalam penamaan yang disahkan UEFA berubah menjadi Stadion Salzburg. Saat digunakan untuk menggelar pertandingan di Piala Eropa 2008, stadion yang berdiri pada 2003 itu pun menggunakan nama berbeda yakni EM-Stadion Wals-Siezenheim.
Setali tiga uang dengan Red Bull Arena di Leipzig. Stadion terbesar di kawasan Jerman Timur yang dibangun 1954 itu harus berganti nama menjadi RB Arena karena terbentur regulasi UEFA. Sebelumnya, RB Arena juga punya nama lain, Zentralstadion.
4. LOGO
[caption id="" align="aligncenter" width="1600"]
Footyheadlines[/caption]Logo Salzburg dan Leipzig memiliki banyak kesamaan. Akan tetapi, sekarang menjadi sedikit rumit karena Salzburg memiliki dua logo. Pertama adalah logo reguler yang menyertakan merek Red Bull. Sedangkan yang kedua khusus untuk bertarung di kompetisi UEFA, tanpa menyertakan logo Red Bull.
Bahkan, Salzburg harus mengubah logo mereka tahun lalu agar lebih berbeda dengan Leipzig. Versi UEFA dari logo Salzburg kini hanya menampilkan satu banteng.
Sementara pada 2014, Leipzig sudah harus mengubah logo klub untuk "menjauhkan diri" dari pemiliknya setelah mendapat hak promosi dari kasta ketiga Liga Jerman menuju Bundesliga 2, yang berada di bawah regulasi ketat DFL.
5. JERSEY
[caption id="" align="aligncenter" width="1080"]
Footyheadlines[/caption]Kostum Salzburg dan Leipzig sejatinya sangat identik, dengan menyertakan logo Red Bull. Namun pada tahun lalu, UEFA memaksa Red Bull Salzburg untuk merilis jersey tambahan yang berbeda dengan Leipzig, karena kedua tim sama-sama bermain di Liga Europa.
Sejak musim ini, kostum Salzburg dan Leipzig benar-benar berbeda, kendati sama-sama dibuat oleh produsen apparel asal Amerika Serikat, Nike.
[caption id="" align="aligncenter" width="1080"]
Footyheadlines[/caption]Dengan segala transformasi tersebut, Salzburg dan Leipzig kini bisa leluasa bersaing di kompetisi UEFA. Pertemuan kedua tim di fase grup Liga Europa 2018-19 pun menjadi salah satu daya tarik. Bahkan, selepas drawing, sempat muncul beragam meme terkait pertemuan keduanya.
Apa jadinya jika duel Red Bull bukan cuma melibatkan Salzburg dan Leipzig? Salzburg pun punya feeder club yang bertarung di kasta kedua Liga Austria, FC Liefering. Di belahan bumi lain, ada pula "saudara-saudara" lain seperti New York Red Bulls bersama tim reserve-nya, NY Red Bulls II, serta Red Bull Brasil. Lalu, Red Bull cabang mana yang lebih tangguh?
Polemik Kepemilikan, Pemicu Transformasi Salzburg dan Leipzig
#LigaEuropa #RBLeipzig #RBSalzburg #RedBull

Komentar
Posting Komentar